Bismillahirrahmanirrahim
Sebelumnya, kami mohon maaf atas keterlambatan pengumuman ini, mengingat begitu padatnya agenda Hari Pendidikan Nasional oleh FLP Sulsel pada tanggal 5 Mei 2012
Jumlah peserta pada Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional dalam rangka Hardiknas ini cukup menggembirakan, mencapai 385 peserta. Berasal dari seluruh penjuru tanah air, dan beberapa warga Indonesia yang bermukim di Yaman, Kairo, Hongkong, dan Malaysia.
Adapun ketiga pemenang dalam lomba ini berdasarkan kriteria dewan juri adalah sebagai berikut:
Pemenang Pertama, Cerpen "Rembulan dalam Botol Kaca", karya Zakiya Sabdosih (Malang, Jawa Timur)
Pemenang Kedua, Cerpen "Ares", karya Lalu Abdul Fatah (Surabaya, Jawa Timur)
Pemenang Ketiga, Cerpen "Remuk Redam", karya Maskur (Makassar, Sulawesi Selatan)
Berikut adalah komentar dewan juri:
Menulis untuk lomba ibaratnya membuat perhiasan emas untuk dipersembahkan pada raja. Tukang emas harus cerdas menentukan model dan teliti dalam menyelesaikan perhiasannya. Beberapa penulis, saat sadar jika cerpen yang dibuatnya adalah cerpen untuk lomba, terkadang merasa tertekan karena harus menulis cerpen sesempurna mungkin. Padahal, di manakah ada cerpen yang sempurna? Cerpen terkadang kuat pada diksi, tapi konflik datar-datar saja. Sering ada cerpen yang idenya sangat unik, diksinya yang biasa-biasa saja.
Beberapa penulis dalam lomba cerpen kali ini, terkesan memaksakan cerpen yang ditulisnya adalah cerpen yang sangat bagus. Akhirnya, banyak cerpen masuk, diksinya sangat melankolis hingga berkesan dangdut banget. Begitu pun dalam pemilihan latar, beberapa cerpen memaksakan diri mengangkat tema lokalitas dengan mencaplok istilah-istilah daerah yang menjadi setting tempatnya, tapi gagal mengajak pembaca menikmati daerah yang dikunjunginya.
Dari 385 judul cerpen yang masuk, tim juri akhirnya menetapkan "Rembulan dalam Botol Kaca" menjadi cerpen juara pertama, disusul cerpen "Ares" di posisi kedua dan cerpen di posisi ketiga adalah "Remuk Redam".
Ketiga cerpen ini bukan hanya memiliki ciri khusus, namun juga punya kekuatan tersendiri. Cerpen pemenang pertama, Rembulan dalam Botol Kaca, begitu kuat di diksi. Sementara cerpen pemenang kedua yang berjudul Ares, lebih memilih tampil dengan judul sederhana, juga bertutur sederhana namun menghentak di ending, seolah menyadarkan kita bahwa cerpen yang bagus tak harus mengambil kata dari kamus kata-kata mutiara. Terakhir, cerpen pemenang ketiga hadir untuk menepuk bahu kita, bahwa banyak sekali kisah di sekeliling yang bisa dieksploitasi untuk dijadikan cerpen berkualitas.
Penetapan ketiga cerpen pemenang di atas, bagi juri bukanlah hal yang mudah. Di sesi terakhir penjurian, ada tujuh cerpen yang berhasil memikat hati, hingga harus dibaca dan dibaca berulang-ulang. Akhirnya juri berpikir, ketiga cerpen yang dipilih sebagai pemenang ini mungkin penulisnya sedang khusyu tahajjud ketika kami sudah harus mengetuk palu.
Kami tim juri, memang bukanlah raja, yang jika kami tak suka, maka semua rakyat juga akan tak suka. Kami hanya hakim yang mencoba menjatuhkan vonis dengan adil. Jadi, buat yang belum berhasil, jika kalian memilih 'banding', bukan tak mungkin cerpen kalian akan dihargai senilai emas di luar lomba ini. Terus berkarya!
Selamat untuk ketiga pemenang!
Dewan Juri:
S.Gegge Mappangewa (Penulis Novel Terbaik Republika Tahun 2012 "Lontara Rindu")
Benny Arnas (Cerpenis, Penulis Buku "Jatuh dari Cinta")
Hamran Sunu (Cerpenis, Emerging Writer Makassar International Writers Festival 2011)